Apa Itu Stop Out Broker Forex?

Saat menelusuri seluk-beluk kondisi dan spesifikasi broker forex, pernahkah Anda menjumpai istilah stop out broker? Jika ya, sudahkah Anda memahami artinya? Sebagian trader cenderung mengabaikan aspek ini karena lebih memprioritaskan parameter lain seperti lot dan deposit minimal, spread, serta leverage.

Padahal, fitur ini sangatlah penting dan berkaitan langsung dengan dana trading Anda. Jika tidak diwaspadai, stop out broker bisa menjadi mimpi buruk yang tiba-tiba datang untuk mengkonfirmasi terkurasnya dana trading Anda. Itulah sebabnya, kita akan membahas tuntas tentang stop out broker, baik itu definisi, contoh, maupun cara menghindarinya.

Apa Itu Stop Out Broker

Apa Itu Stop Out Broker?

Stop out broker adalah penutupan paksa suatu posisi yang merugi, karena trader tak lagi memiliki cukup dana untuk menahan posisi terbuka. Penutupan tersebut dilakukan secara otomatis oleh server broker, dan dimaksudkan untuk melindungi akun dari kerugian yang melebihi modal.

Stop Out broker biasanya beriringan dengan penetapan margin call. Dalam kebijakan broker forex, margin call lebih difungsikan sebagai sistem peringatan sebelum posisi ditutup secara paksa oleh stop out.

Jadi apabila terdapat aturan margin call 50% dan stop out broker 20%, maka artinya Anda akan mendapat peringatan margin call untuk menutup posisi trading saat kerugian trading hanya menyisakan dana sebesar 50% dari used margin. Apabila peringatan tersebut tidak diindahkan, maka saat kerugian terus berlanjut dan dana Anda terus menyusut hingga tersisa 20% dari used margin, posisi trading akan ditutup secara paksa (ter-stop out) oleh server broker forex.

Contoh Penerapan Stop Out Broker

Stop out broker biasanya ditentukan dalam presentase untuk melambangkan berapa persen dari used margin yang diset untuk memicu stop out. Sebagai informasi, used margin adalah jumlah dana yang diperlukan untuk membuka sebuah posisi.

Rumus used margin:
(harga saat ini x ukuran trading) / leverage
Contoh used margin:
Anda menggunakan leverage 1:100 dan hendak open posisi 2 lot (200,000 unit mata uang) untuk EUR/USD yang saat ini sedang berada di kisaran 1.4524.
(1.4524 x 200,000) / 100 = $2,904.8

Dari perhitungan di atas, jika Anda trading di broker yang menetapkan stop out 100%, maka semua posisi floating akan tertutup saat kerugian menyisakan ekuitas senilai $2,904.8. Cara menghitungnya seperti ini:
Rumus stop out 100%:
Stop out diberlakukan saat jumlah ekuitas mencapai besaran ini.
Ekuitas = Used margin x 100%
Rumus stop out 20%:
Stop out diberlakukan saat jumlah ekuitas mencapai besaran ini.
Ekuitas = Used margin x 20%
Jadi apabila kebijakan stop out broker forex adalah 20%, maka posisi Anda tak akan ditutup paksa sebelum sisa ekuitas mencapai $580.96 ($2,904.8 x 20%). Contoh Penerapan Stop Out Broker
Dalam kondisi trading sebesar 2 lot yang nilai per pips-nya adalah $20 per pip, maka ketahanan dana untuk stop out 100% adalah ($10,000 - $2,904.8) /$20 = 354 pip. Jadi apabila kerugian telah melebihi 354 pip, maka posisi akan segera terkena stop out broker.

Manakah Yang Lebih Baik? 20% Atau 100%?

Belajar dari contoh di atas, dapat dipahami bahwa baik stop out besar maupun kecil sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika broker forex memiliki kebijakan stop out 100%, maka artinya akan ada lebih banyak dana yang diamankan dari kerugian total. Namun demikian, risiko terkena stop out broker jadi lebih besar, karena broker forex mematok jumlah used margin begitu saja sebagai parameter.

Stop Out Broker 100 Persen atau 20 Persen
Sebaliknya, keuntungan dari stop out broker 20% terletak pada risiko penutupan paksa yang lebih kecil. Contoh di atas telah membuktikan bahwa dengan penggunaan stop out broker sebesar 20%, Anda bisa menahan kerugian lebih banyak dari aturan stop out 100%. Sayangnya, kemudahan tersebut juga mengandung risiko, karena jumlah dana tersisa akan jauh lebih sedikit (Stop out broker 100% menyisakan $2,904.8, sedangkan stop out broker 20% hanya menyisakan $580.96).

Untuk memilih stop out broker terbaik, Anda bisa menyesuaikannya dengan pertimbangan sendiri: apakah Anda lebih suka mengamankan lebih banyak dana dan tidak keberatan menerima risiko terkena stop out broker lebih cepat, atau justru mengutamakan keleluasaan trading dan tidak masalah dengan kecilnya jumlah dana yang tersisa setelah terkena stop out.

Jika Anda termasuk tipe trader kedua, maka broker forex dengan stop out kecil bisa menjadi pilihan utama. Salah satu contoh broker forex dengan fasilitas tersebut adalah FirewoodFX, yang menetapkan kebijakan stop out broker 20% di semua jenis akun.

Bagaimana Cara Menghindari Stop Out Broker?

Stop out adalah situasi terburuk yang bisa menimpa trader, karena kondisi ini membuktikan bahwa dana akun di trading Anda sudah terkikis habis oleh kerugian. Dengan kata lain, tidak ada sisa equity yang dapat digunakan untuk membuka transaksi baru.

Cara Menghindari Stop Out Broker
Untuk menghindari hal ini, ada beberapa cara yang bisa diterapkan:
  • Berhati-hatilah dalam memilih leverage. Jika Anda memilih leverage kecil, pastikan Anda punya cukup dana untuk mempertahankan kelangsungan posisi trading. Namun apabila Anda trading dengan leverage besar, sebaiknya perhitungkan baik-baik tingkat ketahanan dana Anda terhadap risiko.
  • Kurangi risiko Anda. Jangan ceroboh jika ingin membuka lebih dari 1 posisi, dan jangan lalai untuk mengawasi used margin dan available margin.
  • Gunakan stop loss untuk mencegah kerugian mencapai batas stop out. Dengan cara ini, Anda bisa membatasi loss agar posisi bisa teramankan sebelum stop out broker forex bertindak.
  • Terapkan pengaturan money management untuk mengatur risiko trading. Jangan lupa memperhitungkan kerugian maksimal dari level stop out broker saat Anda mempertimbangkan besar risiko per trade.
  • Jika khawatir karena margin call dan stop out broker sudah semakin dekat, Anda bisa:
    • Menyuntikkan dana ke akun trading.
    • Menutup posisi trading secara manual.
    • Melakukan strategi hedging (hanya jika Anda tahu benar caranya).
  • Kontrol emosi trading Anda, jangan terpancing rasa serakah untuk membuka posisi tanpa rencana, atau membuka banyak posisi hanya untuk membalas dendam atas kekalahan dari trading-trading sebelumnya.